Details

Kota Tua: Batavia Tua

Di atas lahan seluas 1,3 km persegi  inilah--sekarang dikenal sebagai wilayah Jakarta utara dan Jakarta barat--pemerintah Belanda membangun sebuah benteng, kanal dan gedung perkantoran.

Pusat kota Batavia tua adalah Municipal Hall, yang dikenal sebagai Stadhuis, tepat di belakang plaza yang terbilang besar bernama Stadhiusplein, yang memiliki air mancur di tengahnya yang berfungsi menyuplai air ke gedung-gedung sekitar.

Ke arah barat, Anda akan menemukan Museum Wayang yang pernah dimiliki oleh sebuah perusahaan besar milik Belanda, Geo Wehry 

Kotatua

Dekat area ini adalah Stasiun Kereta Api Kota, yang dikenal juga dengan nama Stasiun Beos. Bangunan ini didesain dengan gaya Art deco, yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Sementara di bagian utara terdapat beberapa gedung perniagaan yang saat ini menjadi Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Sekitar plaza terdapat beberapa gedung penting, seperti gedung pengadilan, yang terletak di sisi timur dan sekarang dikenal sebagai Musium Seni Murni dan Keramik. Di museum ini Anda bisa menemukan lukisan-lukisan karya maestro Raden Saleh, juga lukisan Basuki Abdullah, Affandi dan lainnya yang beraliran kontemporer.

Tempat-tempat Bersejarah di sekitar Kota Tua (the Old Batavia)

Sejarah Museum di Jakarta

Dikenal juga sebagai Museum Fatahilah di area Kota tua, museum ini menjadi saksi sejarah kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1707 dengan nama Stadhuis atau Municipal Hall of Batavia, gedung ini menjadi tempat yang menceritakan sejarah kota Jakarta sejak sebelum jaman penjajahan Belanda sampai hari ini, dalam materi logam, tekstil, bebatuan, kristal, keramik, kertas dan tulang. Di museum ini juga terdapat Meriam Jagur yang dipercaya dapat meningkatkan kesuburan, ada pula kapak untuk menumpas kejahatan serta lukisan dari Gubernur  jenderal Belanda sejak tahun 1602-1942.

Furnitur antik dan orisinil yang pernah dipakai oleh para penjajah yang berkuasa juga dipajang di tempat ini. Museum ini memiliki sebuah ruangan bawah tanah kecil yang gelap dan cenderung menakutkan yang sebelumnya adalah sebuah penjara, dimana salah satu pejuang Indonesia, Diponegoro, pernah diikat dan dipenjara di dalamnya.

Museum Wayang

Museum Wayang juga terletak di Lapangan Fatahilah. “Wayang” adalah seni asli khas Indonesia yang dipakai dalam menggambarkan cerita dari jaman Mahabarata dan Ramayana, yang juga berkaitan dengan aksi nenek moyang para Raja Jawa ketika menghabiskan lawan-lawannya.

Karena Wayang adalah seni yang dianggap memiliki cara khas nan elegan dalam menyampaikan cerita terkenal yang memiliki filosofi yang dalam dan banyak pembelajaran, maka UNESCO menobatkannya sebagai salah satu UNESCO world heritage.

Yang paling terkenal dalam pertunjukan wayang adalah  wayang yang terbuat dari kulit yang dibuat dengan kualitas tinggi, tetapi di museum ini juga tersedia jenis wayang dari berbagai daerah di Jawa.  Di sini terdapat juga wayang golek dari Jawa Barat. Wayang golek adalah wayang yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh dalang, yang mengatur suara dan intonasi mengikuti  karakter yang sedang diperankan, pria atau wanita, raja atau masyarakat biasa.

Wayang juga dapat diperankan oleh manusia, dalam hal ini disebut Wayang Wong. Di sini juga tersedia berbagai topeng wayang beber, wayang revolusi, wayang suket dengan total lebih dari 5500 topeng

Museum ini juga memiliki koleksi berbagai boneka dari mancanegara, mulai dari Cina, India, Thailand, Kamboja sampai Perancis dan Suriname. Koleksi tertua adalah Wayang Kyai Intan yang dibuat tahun 1870.

Museum Seni dan Keramik

Di lapangan Fatahillan terdapat juga Museum Seni dan Keramik. Museum Seni dan Keramik memiliki koleksi langka dari pelukis maestro Indonesia mulai dari RadenSaleh, Affandi, Basoeki Abdullah, S. Sudjojono sampai pelukis kontemporer seperti Dede Eri Supria serta pelukis kontemporer lainnya. Di sini juga tersedia koleksi berbagai keramik dan patung karya G. Sidharta.

 

 

 

 

 

 

Bank Indonesia Museum and Bank Mandiri Museum

the archipelago’s Banking system from Dutch colonial times to today.

Bila Anda termasuk orang yang memiliki ketertarikan dengan perbankan, Anda dapat mengunjungi Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri di lokasi yang sama.Di Museum Bank Indonesia kita dapat menyaksikan sejarah sistem perbankan, mulai dari zaman kolonial Belanda sampai sekarang.

Sementara itu di Museum Bank Mandiri dapat Anda saksikan bagaimana bank swasta beroperasi di zaman kolonial.

Terdapat pula lukisan dinding yang menggambarkan nuansa empat musim di Eropa dan seorang Kapten dari Belanda bernama Cornelis Houtman.

Bangunan museum sendiri terasa masih menyisakan aura dari masa lalu, dimana mosaik lantai keramik masih tampak rapi di lobby, ruangan meeting dan ruangan direktur-direktur bank pada masa itu.