Starts in:
Event Info:
  • 01-01-1970
  • 01-01-1970
  • |
Buy Tickets

Details


Wisata Religi dan Ziarah yang Menenangkan Hati di Jakarta Pusat

Hai Sobat Wisata!
Jakarta Pusat merupakan jantung finansial ibu kota, bisnis dan juga administratif. Dibalik segala aktivitas yang mendera, Jakarta Pusat menyimpan sejuta pesona salah satunya dengan hadirnya beragam destinasi wisara religi dan ziarah yang menyejukan hati.

Wisata religi dan ziarah selain menambah wawasan sobat wisata, juga berfungsi sebagai penawar dahaga spiritual. Berikut Jakarta Tourism merekomendasikan beberapa wisata religi dan ziarah yang wajib kamu kunjungi,


1. Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral yang memiliki nama resmi Gereja 
Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming merupakan sebuah gereja yang diresmikan pada tahun 1901 dan dibangun dengan gaya arsitektur neo-gotik dari Eropa. Gereja Katedral dirancang dan dimulai pembangunannya oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pada tanggal 21 April 1901 Gereja Katedral diresmikan dan diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Gereja Katedral juga tergolong situs cagar budaya di Jakarta. 
Gereja Katedral Jakarta yang kita kenal saat ini bukan merupakan gedung gereja yang asli. Gereja yang asli diresmikan pada Februari 1810. Pertengahan tahun 1891 mulai dilakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan gereja baru. Orang yang ditunjuk untuk menjadi perencana dan arsitek pembangun gereja adalah Antonius Dijkmans.
 
Seiring perkembangan waktu, Gereja Katedral Jakarta mengalami perbaikan terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Situs Cagar Budaya Gereja Katedral Jakarta kini masih berfungsi sebagaimana mestinya. Setiap harinya bangunan peribadatan ini dikunjungi oleh para umatnya. Hal menarik dari Gereja Katedral salah satunya terdapat museum yang menyimpan rekaman sejarah persebaran ajaran Katolik di Jakarta.

Transportasi Menuju Gereja Katedral Jakarta

- Transportasi Umum: TransJakarta
(Estimasi tarif: Pukul 05.00-07.00 WIB Rp2.000,- dan Pukul 07.00-24.00 WIB Rp3500,-)
Naik TransJakarta dari Halte Pulomas dengan rute Pulo Gadung - Harmoni (Koridor 2) dan turun tepat di Halte Deplu. Lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju lokasi yang memakan waktu sekitar 6 menit.

Jam operasional: Setiap hari, beroperasi selama 24 jam.
 

2. Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal adalah Masjid Nasional Republik Indonesia yang menjadi kebanggaan dan juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Perancang Masjid Istiqlal yakni Friedrich Silaban merupakan seorang Kristen Protestan. Dia dipercaya menjadi perancang masjid karena sebelumnya telah memenangkan kompetisi rancang masjid dengan gagasan tema berupa "Ketuhanan" yang diselenggarakan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Soekarno.

Selaras dengan semboyan Bangsa Indonesia yakni "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu," Masjid Istiqlal menjadi simbol toleransi antaragama karena lokasinya berseberangan dengan Gereja Katedral.

Friedrich Silaban dalam proses perancangan Masjid Istiqlal, dia memasukkan simbol-simbol yang berkaitan dengan Islam dan semangat kemerdekaan. Kubah masjid memiliki diameter sekitar 45 meter yang melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia dan juga terdapat ukiran ayat kursi yang melingkari kubah. Selain itu masjid ini ditopang juga dengan 12 tiang yang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh di tanggal 12 Rabiul Awal.Tahun 1961, pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. Soekarno.

Masjid Istiqlal terletak di Jalan Taman Wiyaja Kusuma, Jakarta Pusat yang memiliki luas 9,5 hektar. Nama "Istiqlal" diambil dari Bahasa Arab yang berarti merdeka. Masjid ini dibangun sebagai perwujudan rasa syukur Bangsa Indonesia yang merupakan mayoritas beragama Islam atas berkat Allah SWT yang telah membebaskan Indonesia dari cengekraman penjajah.

Transportasi Menuju Masjid Istiqlal

- Transportasi Umum: TransJakarta
(Estimasi tarif: Pukul 05.00-07.00 WIB Rp2.000,- dan Pukul 07.00-24.00 WIB Rp3500,-)
Naik TransJakarta dari Halte Pulo Gadung menuju Halte Harmoni (Koridor 2). Pastikan anda turun tepat di Halte Istiqlal.
Perjalanan kira-kira memakan waktu sekitar 1 Jam.

Jam operasional: Setiap hari, beroperasi selama 24 jam.


3. Makam Souw Beng Kong

Souw Beng Kong adalah Kapiten Cina Pertama yang diangkat oleh VOC Belanda dimana pada waktu itu Gubernur Belanda adalah Jenderal JP Coen. Dia dipilih oleh Jendral Belanda untuk menjaga ketertiban saat Belanda hijrah dari Banten ke Batavia pada tahun 1916. Pada saat menjadi Kapiten Souw Beng Kong membangun Kanal Molenvielt yang kini menjadi pemisah Jl. Gajahmada dan Hayam Wuruk. 

Souw Beng Kong meninggal pada April 1644, dan dikuburkan di kompleks makam keluarga, yang terletak di kebun kelapa miliknya sendiri seluas 20.000 meter persegi. Lokasinya sekarang ada di Gg Taruna, Jl Pangeran Jayakarta sejak tahun 1945. 
 
Tahun 2008, makam tersebut berhasil dipugar oleh Yayasan Kapiten Souw Beng Kong. Lahan di sekitar makam berhasil dibebaskan, keramik lantai dan pagar juga dipasang. Selain itu, gundukan tanah juga diganti dengan yang baru. Disepanjang Jl. Pangeran Jayakarta juga dipasang tiga buah papan petunjuk jalan ke makam. 

Transportasi menuju Makam Souw Beng Kong

- Transportasi Umum: TransJakarta
(Estimasi tarif: Pukul 05.00-07.00 WIB Rp2.000,- dan Pukul 07.00-24.00 WIB Rp3500,-)
Naik Bus TransJakarta dari Halte Kota kemudian dilanjutkan dengan menggunakan angkot M15A dari stasiun Jakarta Kota menuju ke pasar Tekstil Mangga Dua dan dilanjutkan dengan perjalanan sekitar 15 menit menuju lokasi.

Jam operasional Bus TransJakarta: Setiap hari, beroperasi selama 24 jam.

4. Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (Habib Cikini)
 
Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi merupakan seorang alim ulama yang melakukan syiar Islam di Batavia (kota yang kini disebut dengan Jakarta). Habib Abdurrahman memiliki nasab lengkap yakni Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi. Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi juga dikenal dengan nama Habib Cikini.
 
Habib Abdurrahman lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib dan merupakan generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara. Habib Abdurrahman juga merupakan ayah dari Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau yang juga dikenal dengan Habib Ali Kwitang.
 
Semasa hidupnya, Habib Abdurrahman merupakan teman dekat maestro lukis Raden Saleh. Habib Abdurrahman juga menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang merupakan adik dari Raden Saleh. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, ia kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara.
 
Habib Abdurrahman wafat pada tahun 1296 H/1879 M dan dimakamkan di Jalan Kramat No. 5 Cikini, Jakarta Pusat yang lokasinya tidak jauh dari pintu belakang Taman Ismail Marzuki (TIM). Makam Habib Abdurrahman juga merupakan salah satu cagar budaya di DKI Jakarta.
 
Transportasi Menuju 
Makam Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi (Habib Cikini)

- Transportasi Umum: TransJakarta
(Estimasi tarif: Pukul 05.00-07.00 WIB Rp2.000,- dan Pukul 07.00-24.00 WIB Rp3500,-)
Naik Bus TransJakarta dari Halte Harmoni dengan Rute Harmoni – PGC Koridor 5C dan turun di Halte Kramat Sentiong NU. Dari Halte Kramat Sentiong NU kemudian berjalan menuju lokasi yang jaraknya sekitar 750 meter dan kurang lebih memakan waktu sekitar 9 menit. Selain berjalan kaki, anda juga dapat menggunakan transportasi daring menuju lokasi dengan biaya sekitar Rp13.000,00 – Rp25.000,00.

Jam operasional Bus TransJakarta: Setiap hari, beroperasi selama 24 jam.