Starts in:
Event Info:
  • 01-01-1970
  • 01-01-1970
  • |
Buy Tickets

Details


Destinasi Wisata Religi dan Ziarah di Jakarta Barat yang Menarik Untuk Dikunjungi

Hai Sobat Wisata!
DKI Jakarta memiliki beragam wisata, salah satunya wisata religi dan ziarah di Jakarta Barat. Wisata ini akan memberikan manfaat kesejukan hati dan pikiran. Berikut beberapa destinasi wisata religi dan ziarah di Jakarta Barat yang menarik untuk dikunjungi,

1. Masjid Langgar Tinggi


Pada papan di atas pintu masuk masjid ditulis bahwa Masjid Langgar Tinggi didirikan pada tahun 1249 H/1829 M. Masjid ini pertama kali dibangun oleh seorang muslim dari Yaman bernama Abu Bakar diatas tanah wakaf dari Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. Bangunan tersebut lalu diperluas oleh Said Naum.

Namun menurut Adolf Heuken, seorang sejarahwan yang banyak meneliti sejarah kota Jakarta, tahun 1249 H itu berbetulan dengan 1833 atau 1834 M, dan bukan 1829 M. Sehingga jika tahun Hijriyah yang dijadikan pedoman, maka paling jauh masjid itu didirikan pada 1833 M.

Dari namanya, kemungkinan masjid ini semula hanyalah sebuah langgar atau musala (musholla, tempat shalat; surau), yang terletak di atas sebuah rumah penginapan di tepi Kali Angke. Pada abad ke 19, kali ini masih merupakan jalur pengangkutan dan perdagangan yang sibuk. Adalah Abu Bakar Shihab, seorang saudagar muslim asal Yaman, yang kemudian mendirikan tempat penginapan ini dengan langgar di bagian atasnya.

Pada November 1833 Masjid Langgar Tinggi diperbaiki oleh Syekh Sa'id Na'um (Sa'id bin Salim Na'um Basalamah), seorang saudagar kaya asal Palembang yang kemudian menjabat sebagai Kapitan Arab di wilayah Pekojan. Kapitan Arab ini diserahi kewenangan untuk mengurus tanah yang diwakafkan oleh Syarifah Mas'ad Barik Ba'alwi, yakni lahan tempat Masjid Langgar Tinggi berdiri dan tempat pemakaman umum di Tanah Abang (kini menjadi lokasi Rumah Susun Tanah Abang di Kebon Kacang). Makam Syarifah Mas'ad Barik Ba'alwi ini berada di dekat Masjid Pekojan.

Setelah masa itu Masjid Langgar Tinggi mengalami beberapa kali renovasi. Kini bagian bawah masjid tidak lagi difungsikan sebagai penginapan, melainkan sebagai kediaman pengurus masjid dan ruang toko. Demikian pula, dengan semakin dangkalnya Kali Angke dan semakin kotor airnya, pintu ke arah sungai --yang dahulu kemungkinan dipakai sebagai akses langsung pelancong sungai ke penginapan dan ke masjid-- kini ditutup

Daya Tarik Masjid

Masjid Langgar Tinggi terletak di Jalan Pekojan Raya No 43. Masjid yang berada di bantaran sungai ini diapit oleh Jalan Pekojan di sebelah utara dan Kali Angke di selatannya. Ukuran lantai dasar Masjid Langgar Tinggi adalah 8 × 24 m, membujur sejajar dengan jalan dan sungai.

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan gaya arsitektural Eropa, Tionghoa, dan Jawa. Pengaruh Eropa tampak pada pilar-pilar bergaya neoklasik Toskan. Sementara pengaruh Tionghoa tercermin pada hiasan penyangga balok, dan pengaruh Jawa pada denah dasarnya. Hiasan serupa tugu kecil di atas atap adalah warisan pengaruh Moor.

Lantai masjid terbuat dari bilah-bilah papan kayu yang tebal. Di sisi barat masjid terdapat mihrab dan sebuah mimbar kayu. Mimbar tua (buatan tahun 1859) ini dibawa dari Palembang, sebagai penghargaan bagi Sa'id Na'um. Masjid Langgar Tinggi ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Cara Menjangkau Lokasi,
Masjid Langgar Tinggi terletak di Jl. Pekojan Raya No.43,Tambora, Kota Jakarta Barat. Bagi sobat wisata yang ingin berkunjung dapat menggunakan transportasi publik menuju lokasi yakni Bus TransJakarta (Tarif: Rp3.500,00). Bus TransJakarta beroperasi setiap hari dengan waktu operasional 24. Jam.

Naik Bus TransJakarta dari Halte Harmoni rute Blok M - Kota (koridor 1), kemudian turun di Halte TransJakarta Kota. Sobat wisata dapat melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1,4 km yang memakan waktu kira-kira 17 menit menuju Masjid atau menggunakan jasa transportasi daring menuju lokasi dengan harga berkisar Rp13.000,00 - Rp20.000,00.

2. Masjid Jami' Al Anwar
 
Masjid Jami’ al Anwar didirikan pada tahun 1761 M (tepatnya, tanggal 26 Sya'ban 1174 H) Sebagaimana tertulis pada kaligrafi di ambang pintu sebelah timur. Namun untuk pendirian masjid ini ada 2 pendapat.
 
Pertama, Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara.
 
Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.
 
Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke.
 
Kedua, Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia.
 
Mengingat letaknya yang berada di tengah-tengah permukiman --pada saat itu-- suku Bali di Batavia, sejarawan Denys Lombard dan juga Adolf Heuken cenderung menganggap orang-orang Bali itulah yang membangun masjid tersebut. Dugaan ini diperkuat oleh arsitektur masjid yang untuk sebagiannya berciri budaya Bali. Tercatat pula bahwa pada tahun 1804, seorang kapitan (pemimpin) suku Bali bernama Mohammad Paridan Tousalette Babandan telah menyumbangkan perolehannya dari sewa dua puluh lima rumah petak miliknya di daerah Patuakan (kini kawasan Jl Perniagaan) untuk kas Masjid Angke.
 
Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.Masjid Angke telah dipugar beberapa kali; meskipun demikian, masjid ini tidak kehilangan ciri-ciri asalnya. Antara tahun 1919 dan 1936 masjid ini pernah terbengkalai, akan tetapi dipugar kembali pada tahun 1951.
 
Daya Tarik Masjid
 
Arsitektur masjid ini memperlihatkan perpaduan yang harmonis di antara unsur-unsur budaya Bali, Belanda, Jawa, dan Tionghoa. Bentuk dasar bangunan yang bujur sangkar serta atap limasan yang bersusun dua memperlihatkan pengaruh Jawa. Ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas, mengacu pada gaya punggel rumah Bali. Sementara kusen-kusen pintu, daun pintu ganda, lubang angin di atas pintu, dan anak-anak tangga di depan menampilkan unsur Belanda. Jendela-jendela kayu, dengan terali kayu bulat torak yang dibubut, dan juga tiang-tiang utama, pun mengesankan pengaruh Jawa. Tetapi ada pula yang menganggap bahwa ujung atap yang melengkung itu lebih mirip atap rumah Cina, sedangkan tiang dan jendelanya terpengaruh Belanda.
 
Masjid ini juga mencerminkan keragaman etnis yang ada di Indonesia atau dulu disebut Nusantara sehingga, semua ini menjadi sebuah cerita sejarah maupun arsitektur yang sangat Bhinneka sekali. Dianggap sebagai sebuah representasi kebhinekaan etnik yang ada di Indonesia
Mengingat nilai sejarahnya, Masjid Angke ditetapkan sebagai cagar budaya.
 
Di sekitar masjid ini dimakamkan orang-orang keturunan Arab, Bali, Banten, Pontianak, dan Tartar. Ada dua kelompok makam, yakni di belakang masjid, dan di depan, di seberang gang. Selain makam Ny. Chen, di halaman belakang masjid ada pula makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Angke; makam Syarifah Maryam; serta makam Syekh Jaffar yang konon adalah anak Pangeran Tubagus Angke. Sementara itu di seberang jalan di depan masjid terletak makam Pangeran Syarif Hamid Alkadrie, keturunan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie --pendiri Kesultanan Pontianak. Di belakangnya terdapat makam Ibu Ratu Pembayun Fatimah, anak dari Sultan Maulana Hasanuddin --penguasa Kesultanan Banten. Konon katanya disini juga terdapat Makam Tubagus Angke.

Cara Menjangkau Lokasi,
Masjid Jami' Al Anwar terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat. Bagi sobat wisata yang ingin berkunjung dapat menggunakan transportasi publik menuju lokasi yakni Bus Trans Jakarta.(Tarif: Rp3.500,00). Bus TransJakarta beroperasi setiap hari dengan waktu operasional 24. Jam.

Naik Bus TransJakarta dari Halte Semanggi rute Pinang Ranti - Pluit (koridor 9), kemudian turun di Halte TransJakarta Jembatan Dua. Sobat wisata dapat melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 400 meter yang memakan waktu kira-kira 5 menit menuju Masjid atau menggunakan jasa transportasi daring menuju lokasi dengan harga berkisar Rp13.000,00 - Rp20.000,00.

3. Makam Keramat Angke

Salah satu makam yang terkenal di makam keramat angke yaitu makam Pangeran Syarif Hamid Al Qadri merupakan putra Sultan Pontianak yang dibuang ke Batavia pada masa pemerintahan Belanda. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai ulama dan pejuang.

Makam Pangeran Syarif Hamid Al Kadri sendiri berada di bawah cungkup, ditutupi kelambu berwarna kuning keemasan di bagian bawah dalamnya. Ayahnya, Sultan Syarif Abd. Rachman Al Kadri, adalah pendiri Kota Pontianak. Untuk mengenang jasa-jasanya banyak dari masyarakat berkunjung untuk menziarahi makamnya.
Makam ini banyak dikunjungi oleh para peziarah pada malam Jum’at dengan membaca surat Yasin secara bersama-sama. Makam Keramat Angke juga selalu dipadati ribuan peziarah saat diadakan Haul yang biasanya diselenggarakan satu hari setelah hari raya Idul adha. Di sini juga rutin diadakan kegiatan-kegiatan hari besar islam.


Cara Menjangkau Lokasi,
Makam Keramat Angke terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke Gg. Mesjid I No.05, Tambora, Kota Jakarta Barat. Bagi sobat wisata yang ingin berkunjung dapat menggunakan transportasi publik menuju lokasi yakni Bus Trans Jakarta.(Tarif: Rp3.500,00). Bus TransJakarta beroperasi setiap hari dengan waktu operasional 24. Jam.

Naik Bus TransJakarta dari Halte Semanggi rute Pinang Ranti - Pluit (koridor 9), kemudian turun di Halte TransJakarta Jembatan Dua. Sobat wisata dapat melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 400 meter yang memakan waktu kira-kira 5 menit menuju makam atau menggunakan jasa transportasi daring menuju lokasi dengan harga berkisar Rp13.000,00 - Rp20.000,00.

4. Makam Guru Al Mansur

Guru Mansur ialah ulama yang mempunyai keahlian dalam suatu disiplin ilmu tertentu, mempunyai otoritas untuk mengeluarkan fatwa dan memiliki kemampuan mengajar kitab. Nama asli beliau ialah Muhammad Mansur, beliau merupakan sosok pejuang sekaligus pendakwah pada masa penjajahan Belanda.

Guru Mansur adalah pengajur kemerdekaan Indonesia. Beliau menyerukan agar bangsa Indonesia memasang atau mengibarkan bendera merah putih.  Beliau menyerukan persatuan umat dengan slogannya yang terkenal, ‘rempuk!’ Yang artinya musyawarah.


Cara Menjangkau Lokasi,
Makam Guru Al Mansur terletak di Jalan Sawah Lio lV No 25, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. Bagi sobat wisata yang ingin berkunjung dapat menggunakan transportasi publik menuju lokasi yakni Mikrotrans Jak Lingko (Tarif: Rp5.000,00 per 3 jam). Jak LIngko beroperasi setiap hari pukul 05.00 - 22.00 WIB.

Naik Mikrotrans Jak Lingko dari Halte Tanah Abang rute Tanah Abang - Kota Intan Via Jembatan Lima (Jak.13), kemudian turun di Pasar Mitra. Sobat wisata dapat melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 400 meter yang memakan waktu kira-kira 5 menit menuju makam atau menggunakan jasa transportasi daring menuju lokasi dengan harga berkisar Rp13.000,00 - Rp25.000,00.

5. Makam Pangeran Wijaya Kusuma

Pangeran Wijaya kusuma merupakan seorang penasihat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta. Wijaya berarti kemenangan dan Kusuma artinya kembang. Sehingga jika diartikan Wijaya kusuma yaitu sebagai, Kembang Kemenangan. Pangeran Wijaya Kusuma ditugaskan mendampingi pemerintahan Pangeran Jayakarta Wijayakrama atas perintah Sultan Banten Maulana Yusuf.

Cara Menjangkau Lokasi,
Makam Pangeran Wijaya Kusuma terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke No.9, Wijaya Kusuma, Kec. Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat. Bagi sobat wisata yang ingin berkunjung dapat menggunakan transportasi publik menuju lokasi yakni Bus TransJakarta (Tarif: Rp3.500,00). Bus TransJakarta beroperasi setiap hari dengan waktu operasional 24. Jam.

Naik Bus TransJakarta dari Halte Harmoni rute Harmoni - Gogol (koridor 6A), kemudian turun di Halte Grogol 2. Sobat wisata dapat melanjutkan dengan menggunakan jasa transportasi daring menuju lokasi. Harga berkisar Rp30.000,00 - Rp40.000,00.