Details

Diversity
Titik awal      : Masjid Istiqlal
Titik akhir     : Gereja PNIEL

Durasi     : 3 jam
Jarak       : 2.9 km


Tempat menarik:

1. Masjid Istiqlal
Masjid terbesar di Asia Tenggara yang didesain oleh seorang arsitek kristen bernama Frederick Silaban menjadikan ikon Jakarta bahkan Indonesia, karena semua kunjungan resmi kenegaraan selalu akan dikenalkan dengan masjid yang indah nan megah ini

2. Kathedral Jakarta
Satu-satunya bangunan bergaya Gothik di Jakarta dengan hiasan kaca patri yang menawan menjadikan Kathedral ini salah satu bangunan yang sangat menarik untuk di kunjungi. Terletak berhadap-hadapan dengan Masjid Istiqlal sebagai simbol kerukunan umat beragama.

3. Sri Satya Sai Baba Foundation
Bangunan ini dipersembahkan oleh Sri Satya Sai Baba, seorang Swami dari India yang terkenal, juga seorang guru yang lahir pada 1926 dan mengajar di perguruan spiritual di Puttaparti, India Selatan. Beliau diyakini sebagai kedua dari tiga reinkarnasi sang Sai Avatar. Pengabdian kepada Sai Baba melibatkan terus menerus dalam agama aslinya

4. Yayasan Sikh Gurdwara Mission
Gurdwara adalah tempat berkumpul dan beribadah bagi orang Sikh. Orang-orang dari semua agama, dan mereka yang tidak menganut agama apa pun, disambut di Sikh gurdwara. Setiap gurdwara memiliki Darbar Sahib di mana guru Sikh saat ini dan abadi, kitab suci Guru Granth Sahib, ditempatkan pada takhat (tahta tinggi) di posisi sentral yang menonjol. Para raagis (yang menyanyikan lagu Ragas) membaca, menyanyi dan menjelaskan, ayat-ayat dari Guru Granth Sahib, di hadapan jamaah.

5. Sin Tek Bio
Dibangun 1698 di lokasi yang dulunya masih hutan belantara serta rawa-rawa. Untuk mencapai kelenteng ini, kita harus melalui gang sempit karena dikelilingi oleh bangunan modern. Terdapat 2 bagian bangunan dimana yang paling besar tuan rumahnya adalah Hok Tek Ceng Sin sebagai Dewa Bumi dan rejeki, sedangkan bangunan yang lebih kecil tuan rumah nya adalah Dewi Kuan Im, dewi welas asih.

6. Gereja PNIEL
Dibangun pada tahun 1856 oleh Pendeta JFG Brumund. Biasa disebut Gereja Ayam (Haantjes Kerk) karena di atas menaranya dipasang penunjuk arah angin yang berbentuk ayam jago. Sejak dibangun sebagian besar jamaahnya adalah orang pribumi. Khotbah pun diadakan pada hari Minggu dengan menggunakan bahasa Melayu dan Belanda. Sejak 1953 dinamakan Gereja Pniel. Dengan dua menara tampak dari muka, bangunan ini bergaya Neo-Romanik dengan unsur-unsur Neo-Barok.


Photos