Masa Pra-Kolonial, Masa Kolonial, Kemerdekaan dan Indonesia Saat ini

Area yang terbilang paling tua di Jakarta adalah bagian utara pantai barat Jawa dimana sungai Ciliwung berada, mengailiri teluk-teluk di Jakarta.

Kota pelabuhan ini pada mulanya bernama Sunda Kelapa, namun pada 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah menghancurkan Sunda Kelapa dan sebagai gantinya mendirikan kota Jayakarta di area tersebut. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal berdirinya kota Jakarta.

Kota Jayakarta berkembang sebagai kota pelabuhan yang sibuk, dimana para pedagang dari Cina, India, Arab dan Eropa serta dari Negara-negara lainnya saling bertukar barang-barang/komoditi.

 

Tahun 1619, Pemerintahan Belanda (VOC) di bawah kepemimpinan Jan PieterszoonCoen menghancurkan Jayakarta dan dengan serta merta membangun kota baru yang terletak di bagian barat sungai Ciliwung, yang dia namakan Batavia, nama yang diambil dari Batavieren, nenek moyang bangsa Belanda

 

Batavia direncanakan dan dibangun nyaris mirip dengan kota-kota di Belanda, yaitu dibangun dalam bentuk blok, masing-masih dipisahkan oleh kanal dan dilindungi oleh dinding sebagai benteng, dan parit. Batavia ini selesai dibangun pada 1650. Batavia tua adalah tempat tinggal bangsa Eropa, sementara bangsa Cina, Jawa dan penduduk asli lainnnya disingkirkan ke tempat lainnya.

 

Di masa-masa kejayaannya Batavia yang terkenal sebagai ‘Permata dari timur’, diduduki oleh VOC dan kemudain akhirnya diduduki pemerintah Belanda yang terbentang luas di kepulauan Hindia timur.

Kemudian pada masa penjajahan Jepang di tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi Jakarta.

Continue to read the Historic Jakarta:

  • Di atas lahan seluas 1,3 km persegi  inilah--sekarang dikenal sebagai wilayah Jakarta utara dan Jakarta barat--pemerintah Belanda membangun sebuah benteng, kanal dan gedung perkantoran.

    Pusat kota Batavia tua adalah Municipal Hall, yang dikenal sebagai Stadhuis, tepat di belakang plaza yang terbilang besar bernama Stadhiusplein, yang memiliki air mancur di tengahnya yang berfungsi menyuplai air ke gedung-gedung sekitar.

    Ke arah barat, Anda akan menemukan Museum Wayang yang pernah dimiliki oleh sebuah perusahaan besar milik Belanda, Geo Wehry 

    Dekat area ini adalah Stasiun Kereta Api Kota, yang dikenal juga dengan nama Stasiun Beos. Bangunan ini didesain dengan gaya Art deco, yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Sementara di bagian utara terdapat beberapa gedung perniagaan yang saat ini menjadi Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

    Sekitar plaza terdapat beberapa gedung penting, seperti gedung pengadilan, yang terletak di sisi timur dan sekarang dikenal sebagai Musium Seni Murni dan Keramik. Di museum ini Anda bisa menemukan lukisan-lukisan karya maestro Raden Saleh, juga lukisan Basuki Abdullah, Affandi dan lainnya yang beraliran kontemporer.

    Tempat-tempat Bersejarah di sekitar Kota Tua (the Old Batavia)

    Sejarah Museum di Jakarta

    Dikenal juga sebagai Museum Fatahilah di area Kota tua, museum ini menjadi saksi sejarah kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1707 dengan nama Stadhuis atau Municipal Hall of Batavia, gedung ini menjadi tempat yang menceritakan sejarah kota Jakarta sejak sebelum jaman penjajahan Belanda sampai hari ini, dalam materi logam, tekstil, bebatuan, kristal, keramik, kertas dan tulang. Di museum ini juga terdapat Meriam Jagur yang dipercaya dapat meningkatkan kesuburan, ada pula kapak untuk menumpas kejahatan serta lukisan dari Gubernur  jenderal Belanda sejak tahun 1602-1942.

    Furnitur antik dan orisinil yang pernah dipakai oleh para penjajah yang berkuasa juga dipajang di tempat ini. Museum ini memiliki sebuah ruangan bawah tanah kecil yang gelap dan cenderung menakutkan yang sebelumnya adalah sebuah penjara, dimana salah satu pejuang Indonesia, Diponegoro, pernah diikat dan dipenjara di dalamnya.

    Museum Wayang

    Museum Wayang juga terletak di Lapangan Fatahilah. “Wayang” adalah seni asli khas Indonesia yang dipakai dalam menggambarkan cerita dari jaman Mahabarata dan Ramayana, yang juga berkaitan dengan aksi nenek moyang para Raja Jawa ketika menghabiskan lawan-lawannya.

    Karena Wayang adalah seni yang dianggap memiliki cara khas nan elegan dalam menyampaikan cerita terkenal yang memiliki filosofi yang dalam dan banyak pembelajaran, maka UNESCO menobatkannya sebagai salah satu UNESCO world heritage.

    Yang paling terkenal dalam pertunjukan wayang adalah  wayang yang terbuat dari kulit yang dibuat dengan kualitas tinggi, tetapi di museum ini juga tersedia jenis wayang dari berbagai daerah di Jawa.  Di sini terdapat juga wayang golek dari Jawa Barat. Wayang golek adalah wayang yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh dalang, yang mengatur suara dan intonasi mengikuti  karakter yang sedang diperankan, pria atau wanita, raja atau masyarakat biasa.

    Wayang juga dapat diperankan oleh manusia, dalam hal ini disebut Wayang Wong. Di sini juga tersedia berbagai topeng wayang beber, wayang revolusi, wayang suket dengan total lebih dari 5500 topeng

    Museum ini juga memiliki koleksi berbagai boneka dari mancanegara, mulai dari Cina, India, Thailand, Kamboja sampai Perancis dan Suriname. Koleksi tertua adalah Wayang Kyai Intan yang dibuat tahun 1870.

    Museum Seni dan Keramik

    Di lapangan Fatahillan terdapat juga Museum Seni dan Keramik. Museum Seni dan Keramik memiliki koleksi langka dari pelukis maestro Indonesia mulai dari RadenSaleh, Affandi, Basoeki Abdullah, S. Sudjojono sampai pelukis kontemporer seperti Dede Eri Supria serta pelukis kontemporer lainnya. Di sini juga tersedia koleksi berbagai keramik dan patung karya G. Sidharta.

     

    Bank Indonesia Museum and Bank Mandiri Museum

    the archipelago’s Banking system from Dutch colonial times to today.

    Bila Anda termasuk orang yang memiliki ketertarikan dengan perbankan, Anda dapat mengunjungi Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri di lokasi yang sama.Di Museum Bank Indonesia kita dapat menyaksikan sejarah sistem perbankan, mulai dari zaman kolonial Belanda sampai sekarang.

    Sementara itu di Museum Bank Mandiri dapat Anda saksikan bagaimana bank swasta beroperasi di zaman kolonial.

    Terdapat pula lukisan dinding yang menggambarkan nuansa empat musim di Eropa dan seorang Kapten dari Belanda bernama Cornelis Houtman.

    Bangunan museum sendiri terasa masih menyisakan aura dari masa lalu, dimana mosaik lantai keramik masih tampak rapi di lobby, ruangan meeting dan ruangan direktur-direktur bank pada masa itu.

     

     

  • Di sisi barat dan timur sungai Ciliwung terdapat area komersil yang dikenal dengan nama Kalibesar, yang pada saat zaman kolonial Belanda dikenal sebagai Grootegracht yang artinya adalah ‘sungai yang besar’.  Sampai hari ini daerah ini masih menjadi daerah perdagangan yang  sangat sibuk dan dikenal sebagai daerah pecinan Jakarta. Di daerah ini juga terdapat Toko Merah yang berasal dari abad ke 18  yang  sebelumnya adalah Bank Standard Chartered.


     

    Tidak jauh dari lokasi terdapat jembatan tarik khas Belanda yang tersisa satu-satunya  di Jakarta.  Jembatan ini dulu dikenal dengan nama ‘Engelse Brug’ atau Jembatan Inggris, yang menghubungkan benteng Belanda dan benteng Inggris.

    Menghadap laut  tampak bangunan menara  tua yang dulunya digunakan untuk mengamati keluar masuknya kapal . Menara ini dikelilingi oleh benteng. Sekarang menara ini dinamakan Menara Syahbandar, yaitu menara kepala pelabuhan.

    Tidak jauh dari Menara Syahbandar terdapat museum maritim yang sebelumnya digunakan sebagai tempat menyimpan rempah-rempah yang bernilai tinggi sebelum dikirim dengan kapal laut  dan dijual di daratan Eropa.

     

     

    Di sekitar area ini terdapat juga Pasar Ikan dan Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya tepat di hilir sungai Ciliwung, yang sampai sekarang masih melayani pelayaran tradisional  antar pulau . Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan lokasi favorit bagi para turis untuk memotret berbagai kapal layar tradisional yang bersandar di dermaga

     

     

     

    Tempat-tempat bersejarah di sekitar Kalibesar

    Gedung Arsip Nasional

    Gedung dengan batu bata merah yang elegan ini dikenal dengan nama Museum Arsip Nasional dan terletak di Jalan Gajah Mada . Sebelumnya gedung ini pernah digunakan sebagai gedung arsip kolonial Belanda . Pada awalnya gedung ini dibangun di abad ke 18 sebagai tempat  kediaman Gubernur Jenderal VOC Reiner de Klerk.

    Saat ini gedung ini telah menjadi museum dan terbuka untuk umum. Gedung ini dapat  juga digunakan untuk acara makan malam yang romantis  atau untuk resepsi perkawinan eksklusif dengan  suasana tempo dulu.

    Gedung ini pada satu masa pernah akan dihancurkan, sampai sekelompok pengusaha Belanda mendirikan  Stichting Cadeau Indonesia (Masyarakat Pemberi Hadiah untuk Indonesia) mengumpulkan dana untuk restorasi gedung yang dijadikan museum, dan disumbangkan kepada pemerintah Indonesia bertepatan dengan perayaan 50 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 1995.  Restorasi akhirnya dapat dituntaskan pada tahun 1998.

    Bangunan utama berbata merah ini terdiri dari dual lantai dengan atap yang tinggi. Sementara itu lantai dasarnya  sangat luas.  Di gedung ini masih terdapat  ruang tamu gubernur jenderal. Pada masa itu. Saat ini di area ini masih terdapat berbagai koleksi furnitur dan koleksi senjata antik.

    Di lantai dasar masih terlihat lantai keramik yang sama dengan lantai keramik di Istana Kasepuhan di Cirebon yang menggambarkan cerita dari Alkitab.

    Sementara itu terdapat tangga menuju ruang kerja dan ruang makan dan  di lantai dua gedung (Tempat dimana Hillary Clinton dijamu pada saat kunjungan ke Jakarta). Di sini juga dapat ditemukan bebagai peta tua Batavia dan ruang tidur Gubernur Jenderal Reinier de Klerk.

    Pada tahun 2001, Museum Arsip Nasional ini menerima  UNESCO Award of Excellence.

  • Dengan semakin berkembangnya kota, pemerintah Belanda memperluas kawasan Batavia ke arah selatan ke Lapangan Merdeka – dulu disebut Koningsplein yang saat ini tempat  berdirinya Istana Merdeka, Gedung Mahkamah Agung, Museum Nasional dan gedung-gedung pemerintahan penting lainnya, termasuk kantor Gubernur DKI Jakarta dan Kedutaan Amerika.

    Tepat di tengah-tengan lapangan Merdeka kini berdiri Monumen Nasional, monumen berbentuk obelisk (bentuk bersisi empat) yang menjulang tinggi, yang didedikasikan untuk perjuangan masyarakat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan. Di bawahnya terdapat Museum Sejarah Kemerdekaan Indonesia.

    Lokasi dimana proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 tepatnya adalah di jalan Proklamasi - Menteng. Di sini berdiri patung para proklamator, Soekarno dan Hatta. Di jalan proklamasi ini pula terletak kediaman Soekarno, presiden Indonesia yang pertama, namun saat ini telah dihancurkan dan digantikan dengan bangunan bertingkat lima yang dijadikan sebagai Gedung Pola Pembangunan Semesta Republik Indonesia

     

     

    Tempat-tempat Bersejarah di sekitar Lapangan Merdeka

    Monumen Nasional

    Monumen ini berdiri gagah tepat di tengah-tengah Lapangan Merdeka pada lahan seluas 1000 m persegi, sebagai symbol perjuangan rakyat Indonesia memperoleh kemerdekaannya.

    Berbentuk obelisk dan dilapisi oleh marbel buatan itali dengan ‘api’ berwarna keemasan di atasnya, monumen ini tingginya 132 m dan berdiri di atas plaza yang memiliki museum serta diorama yang merangkum sejarah republik Indonesia.

    Api berwarna keemasan ini memiliki ketinggian  14 m dengan diameter sebesar 6 m. Terbuat dari bahan tembaga seberat 14,5 ton, bagian ini dilapisi oleh emas murni seberat 50 kg. Bagian bawah yang menyangganya adalah bidang vertikal setinggi 115 m. Kita dapat menggunakan elevator untuk naik sampai ke atas, di sinilah tempat yang paling ideal untuk menikmati pemandangan kota Jakarta yang indah dari ketinggian.

    Monumen ini dikelilingi oleh hamparan taman yang hijau dimana kita juga dapat melihat rusa-rusa berlarian dengan lincahnya. Pada minggu malam kita dapat juga menikmati air mancur bernyanyi di tempat ini. Sementara setiap hari minggu area ini berubah menjadi tempat bersepeda, lari pagi sampai bermain game bagi penduduk Jakarta.

    Bangunan ini didesain dan dibangun oleh Arsitek dan Insinyur asli Indonesia, Soedarsono, Silaban dan Rooseno pada tahun 1961.

    Di sisi utara menghadap Lapangan Merdeka berdiri Istana Merdeka yang terhubung dengan kantor kepresidenan dan Gedung Sekertariat luar negeri. Tepat di belakang  Istana Merdeka, masih di dalam komples yang sama, adalah Istana Negara yang menghadap sungai Ciliwung yang berada di sepanjang jalan Juanda.Di sini juga terdapat bangunan untuk para tamu istimewa pengunjung museum, yaitu ruangan emas dan perhiasan tempat dismpannya mahkota yang sangat bernilai, ornament-ornamen, keris dan perhiasan yang pernah dikenakan oleh para kaum aristokrat dari berbagai kepulauan. Belakangan ini, Museum Nasional telah diperbesar untuk memenuhi kebutuhan menampilklan benda-benda berharga secara lebih baik.

    Sementara kantor Gubernur DKI Jakarta terletak di sisi selatan Lapangan Merdeka, tepatnya di jalan Medan Merdeka Selatan no 9, berdekatan dengan kantor wakil presiden dan gedung kedutaan Amerika.

    Pada tahun 1905 Kantor Kotamadya Batavia  terletak di Stadhuis, Museum Jakarta saat ini di Lapangan Fatahilah. Kemudian di tahun 1919 kantor ini dipindahkan ke gedung yang saat ini menjadi kantor Gubernur DKI Jakarta. Pada 1982sebuah gedung pencakar langit dibangun tepat di belakang kantor Gubernur menghadap jalan Kebon Sirih dimana terdapat the Jakarta’s Provincial Parliament (kantor DPRD Jakarta?) Kantor Gubernur DKI Jakarta dan gedung the Jakarta’s Provincial Parliament (kantor DPRD Jakarta)  terletak berdekatan satu sama lainnya.

  • Tidak jauh dari Istana Merdeka terlihat Lapangan Banteng, tepat di depan gedung Kementrian Keuangan, yang pada mulanya diperuntukkan sebagai Istana Gubernur Jenderal Daendels. Sekitar Lapangan Banteng berdiri gereja Katolik berdekatan dengan sekolah khusus perempuan Sancta Ursula yang usianya mencapai 100 tahun. Tepat di depan gereja katolik ini, berdiri gagah Mesjid Istiqlal, salah satu  icon kota Jakarta. 

    Di lapangan Banteng ini terdapat patung yang melambangkan kemerdekaan Rakyat Papua barat dari jerat kolonialisme Belanda. Dari lapangan Banteng ke arah jalan Pejambon berdiri gedung kementrian luar negeri, berdekatan dengan gereja protestan Imanuel, yang di depannya adalah Stasiun kereta api Gambir.

    Menjauh dari jalan Merdeka Selatan adalah daerah Menteng, tempat pemukiman para elit Belanda dahulu. Saat ini area Menteng dijadikan daerah yang dijaga keasliannya, sehingga tidak diperkenankan mengubah bangunan-bangunan di area ini tanpa ijin pihak berwenang. KIni Anda bisa menikmati perumahan yang kebanyakan masih bergaya masa lalu dengan taman-taman yang terpelihara rapi.

    Mesjid Istiqlal

    Mesjid Agung Istiqlal ini terisnpirasi oleh presiden pertama RI, Soekarno, dimana pembangunannya membutuhkan waktu sampai 17 tahun. Akhirnya tepat pada 22 Februari 1978 preseiden RI kedua, Soeharto meresmikan mesjid ini sebagai mesjid nasional Indonesia. Mesjid Istiqlal terbilang mesjid terbesar di Asia tenggara, baik dari aspek struktur maupun kapasitas, dengan daya tampung sekitar 120,000 orang.

    Terletak di jalan Taman Wijaya Kusuma – Jakarta Pusat, tepatnya di bagian timur laut Lapangan Merdeka, Mesjid Istiqlal tampak gagah dengan kubah berdiameter 45 m dan dilengkapi dengan menara yang tinggi.

    Berdiri tepat di seberang Gereja Katolik Cathedral di ujung jalan Lapangan Banteng, mesjid Istiqlal ini didesain pada tahun 1954 oleh Frederick Silaban, arsitek pemeluk agama Kristen yang berasal dari Sumatera Utara.

    Area shalat di dalam mesjid ini berbentuk persegi panjang dengan kubah berdiameter 45 m dan ditopang oleh 12 pilar bundar, serta memiliki balkon 4 tingkat dengan tata interior yang tergolong simple.

    Dalam kunjungan singkatnya selama 18 jam di Indonesia pada 9 dan 10 November 2010, Presiden Amerika Obama dan Ibu Negara Michelle Obama melakukan kunjungan khusus ke mesjid ini.

    Setelah kunjungan singkatnya, Presiden Obama memuji mesjid Istiqlal sebagai simbol toleransi beragama yang menggambarkan karakter Negara Indonesia dan penduduknya, yang dapat menginspirasi dunia.

    The Catholic Cathedral and Sancta Ursula Girls School

    Jakarta’s neo-gothic Roman Catholic Cathedral stands on the north corner of Lapangan Banteng, or Banteng Square which was formerly called Waterlooplein, or Waterloo Square in Central Jakarta. Next to the Cathedral is the hundred years old Sancta Ursula Girls School. Today, the Cathedral stands right across Jakarta’s largest mosque, the Istiqlal Mosque.

    Their proximity is no coincidence, since Indonesia’s first president, Soekarno, chose the site on purpose, to symbolize the nation’s philosophy of unity in diversity, where all religions co-exist in peace and harmony.


    Today, both establishments continue to cooperate with one another, especially to accommodate the parking of cars during religious festivals. The parking lot of the mosque is used by the church congregationduring Easter and Christmas midnight mass, and vice versa, during Eid prayers, parking is extended to the Cathedral’s parking lot.

    The Cathedral was consecrated in 1901 having been rebuilt at the same location where previously stood the old cathedral, which was built in 1829 but collapsed in 1890.Above the church are three wrought iron spires, the two highest are 60 meters tall, while the central spire is 45 meters.The building itself has two floors, with the ground floor being for the holding of mass. The upper floor used to be for the choir, but has now been converted into a museum, which holds relics for rituals during the days of the Dutch East Indies, as also the history of the spread of Catholicism in Indonesia.The Cathedral is still actively used to this day.

    Gedung Kesenian Jakarta (Jakarta Performing Art Theater) and Pasar Baru

    Gedung Kesenian Jakarta was built in 1821 upon the site of a simple theatre that was constructed during the British interregnum under Governor General Sir Stamford Raffles. At first called the Schouwburg, its first performance was Shakepeare’s Othello.

    In the following decades the building was used for different purposes. History notes that in 1926 the National Awakening Movement held their first Kongres Pemoeda, or Youth Congress in this building.

    In 1987 it was restored and the building returned to its original purpose as a theatre for concerts and performances. It has a capacity for an audience of 475 persons, and a stage measuring 10.7x14x17 meters.

    Opposite Gedung Kesenian is a shopping street known as Pasar Baru, that used to be most popular with the rich Dutch colonial elite. The street that has shops on both sides, is now only open for pedestrians. Most popular in Pasar Baru are the Indian Bombay textile shops, that have sold exclusive Indian textiles for decades.

     

     

     

    The Ministry of Foreign Affairs: Gedung Pancasila

    Today known as the Ministry of Foreign Affairs at Jalan Pejambon, the building is also known as Gedung Pancasila. This is where on 1 June 1945, a month before Indonesia declared her Independence, Soekarno presented his speech entitled: The Birth of Pancasila.

    Pancasila are the Five Pillars of State upon which the Indonesian Constitution rests. These are:

    1. Belief in the One True God,

    2. A Just and civilized humanity,

    3. The unity of Indonesia,

    4. Democracy guided by the inner wisdom in the unanimity arising out of deliberations amongst representatives, and

    5. Social justice for all the people of Indonesia

    This building was constructed in the 1830’s in the classic empire-doric style. It housed the Volksraad or Raad van Indie, the peoples’ representative institution of the time. Between 1942-1945 it housed the Committee for the Preparation of the National Constitution.

    The Protestant Immanuel Church

    The Protestant Immanuel Church facing Jalan Merdeka Timur and Gambir train station, belongs to one of the oldest churches in Jakarta. Built in 1834, it was designed in neo-classical style during the reign of King Willem I of the House of Orange, and was therefore called the Willemskerk. The dome-shaped church contains an old Dutch organ made in 1843. The church is still in use until today.

     

     

     

     

     

  • Pembangunan kota Jakarta baru diprakarsai oleh presiden pertama RI, Soekarno, yang juga berjasa membangun jalan besar yang menghubungkan Lapangan Merdeka dan kawasan pemukiman baru Kebayoran pada masa itu.

    Jalan besar ini hanya dikhususkan untuk gedung-gedung pencakar langit. Terlihat sampai sekarang, hanya gedung-gedung tinggilah yang berdiri berjajar di area Sudirman – Thamrin, jalan  besar dengan 6 jalur. Presiden Soekarno, yang berlatar belakang sebagai seorang Insinyur sipil adalah orang yang membangun Monumen Nasional dan Mesjid Istiqlal. Hotel Indonesia, hotel pertama bertingkat yang kini menjadi Hotel Indonesia Kempinski dibangun setelahnya, juga wisma Nusantara. Tepat di seberang hotel ini terdapat bundaran air mancur yang sering dijadikan tempat rakyat  melakukan demonstrasi politik.

    Soekarno juga merupakan tokoh yang membangun Bung Karno Sports Center Senayan, yang seluruh kompleksnya diperuntukkan sebagai kompleks besar berukuran olimpik. Saat ini di area Senayan dapat ditemukan hotel bintang lima, Jakarta Convention Center, pusat perbelanjaan sampai kantor stasiun televisi. Sementara itu, sports center-nya yang berkapasitas besar ini seringkali dipergunakan untuk perhelatan akbar tempat para selebriti mancanegara beraksi.

    Bunderan HI, the Hotel Indonesia Circle

    Bundaran Hotel Indonesia dapat dikatakan sebagai jantung dari kota Jakarta. Dilengkapi dengan air mancur dan patung selamat dating ke Jakarta, bundaran ini menghubungkan area Menteng dari ‘abad 19’ ke area di ‘abad 21’ yang dipadati dengan gedung-gedung pencakar langit yang modern, jalan bebas hambatan dan jalan besar seperti Thamrin-Sudirman.

    Di sekitar bundaran ini, berdiri megah hotel-hotel yang besar, supermall dan deretan bank, menyambut para tamu memasuki kota Jakarta yang bergaya modern.

    Bangunan asli Hotel Indonesia yang sampai saat ini telah mengalami berbagai fase perubahan, mulai dari renovasi, perluasan dan penambahan tingkat, sekarang telah berubah nama menjadi Hotel Indonesia Kempinski yang bersebelahan dengan Mall Grand Indonesia serta Gedung BCA, gedung tertinggi di Jakarta.

    Tepat di seberang Hotel Indonesia Kempinski adalah Hotel Grand Hyatt yang terletak bersebelahan dengan Plaza Indonesia pertokoan elit yang juga diperuntukkan bagi pengunjung dari mancanegara. Di belakang dua gedung ini, ada pasar Tanah Abang, pusat tekstil grosiran dan Mal Thamrin City.

    Di sisi berlawanan terlihat Wisma Nusantara, gedung pencakar langit pertama di Jakarta yang dibangun oleh bangsa Jepang dengan war reparation.

    Sekarang ini, Bundaran HI adalah bagian pusat kota. Pada Car Free Days Jakarta, area sekitar Bundaran HI tertutup untuk kendaraan untuk dipergunakan sebagai tempat warga Jakarta berolahraga, seperti bersepeda, jogging juga sebagai tempat rekreasi keluarga yang nyaman. Pada hari ulang tahun Jakarta, bundaran HI kerap dipakai untuk tempat hiburan panggung musik yang dapat dinikmati warga.

    Senayan dan Jembatan Semanggi

    Pada Bung Karno Sports Center yang dibangun oleh Presiden Soekarno dan didesain dalam ukuran olimpik pada masa itu, terdapat Gelora  Bung Karno dan fasilitas olahraga lainnya seperti lapangan tennis, lapangan tembak, lapangan golf, kolam renang dan lainnya.

    Saat ini di area Senayan dapat ditemukan hotel bintang lima, Jakarta Convention Center, pusat perbelanjaan sampai kantoor stasiun televisi. Sementara itu, sports center nya yang berkapasitas besar ini seringkali dipergunakan untuk perhelatan akbar tempat para selebriti mancanegara beraksi.

    Senayan dan jembatan Semanggi dibangun khusus menyambut Asian Games ke 4 yang berlangsung pada 1962.