Museum Harry Darsono

Museum Harry Darsono merupakan museum yang didalamnya mengisahkan perjalanan karier sang maestro di dunia seni. Museum bergaya baroque ini hanya dibuka untuk umum tiga kali dalam sepekan.

Nama Harry Darsono sudah tak asing lagi di duniafashion. Ia pernah merancang busana orang-orang tersohor di Inggris seperti Lady Diana. Bahkan busana houte couture atau adibusana Harry masuk ke dalam busana pilihan yang dimuseumkan di Istana Kensington, London, Inggris. Di Indonesia sendiri, Harry merupakan pelopor museum fashion di tanah air dengan membidani Museum Harry Darsono pada 1996 lalu. 

Kala Anda menyambangi Museum Harry Darsono di Jl Cilandak Tengah No 71 Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan, tak akan ada lagi persepsi museum yang kumuh, menyeramkan, dan membosankan. Pasalnya, museum ini dibangun bergaya Baroque, bangunan ala istana dan kastil di Eropa yang terlihat indah, megah, dan anggun.

Di museum ini, Anda juga dapat melihat karya-karya fenomenalnya, seperti yang berhubungan dengan rancang busana, aksesoris, dan desain interior. Gaun-gaun Harry selama ini dikenal sebagai rancangan berkelas, haute couture, serta kontemporer yang tetap elegan. Koleksi tersebut merupakan hasil karyanya selama mengikuti terapi sejak usia sembilan tahun setelah didiagnosis mengidap attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Misalnya, kostum panggung yang mayoritas terbuat dari sutra bergaya klasik dan kontemporer. Kostum-kostum tersebut pernah dipentaskan secara internasional, di antaranya jubah raja dan ratu dalam pertunjukan King and Queen of Britain, dan pagelaran karya-karya Shakespeare, seperti Hamlet & Othello yang pernah ditampilkan di Woodbridge, Suffolk, Inggris (1980).

Selain itu, ada juga jubah runcing yang dikenakan dalam pagelaran Romeo and Juliet hingga pakaian perang dalam pementasan Julius Caesar di Jakarta (1997), yang semuanya tampil memukau di salah satu sudut ruangan bermandikan cahaya kristal.

Terdapat pula gaun-gaun adibusana, seperti baju dan gaun pengantin dengan sulaman emas murni yang pernah dipesan oleh wanita-wanita bangsawan dunia. Anda akan melihat rancangan untuk Ratu Rania, Ratu Yordania dan rancangan khusus untuk Lady Diana yang dibuatnya pada 1980.

Sebagai perancang busana, Harry memang telah melanglang buana. Kedekatan personal antara keluarganya dengan Barbara Cartland dan Putri Diana membuatnya sering diminta Sang Putri mendesain baju untuk berbagai acara kenegaraan.

Dari berbagai koleksi yang dimiliki, sebagian memang berasal dari karyanya sendiri. Tetapi, bukan berarti dapat ia miliki dengan mudah. Sebagian karyanya ada yang harus ia buru di Balai Lelang Christie karena telah dijual oleh pemiliknya.

Salah satu koleksi termahal yang ia miliki adalah mahkota Putri Diana yang harus ditebus dengan menjual dua buah mobil sport. Tak hanya satu, Harry memiliki tiga mahkota dari Putri Diana yang dipajang di salah satu sudut museumnya.

Istimewanya, berbeda dengan museum lainnya yang menempatkan berbagai koleksi berharga hanya untuk dipandang, Harry mempersilahkan tamu yang datang untuk mencoba dan berpose dengan salah satu mahkota mendiang Diana tersebut.

Tak hanya dekat dengan Putri Diana, Harry juga pernah membuatkan baju untuk Putri Sirikit dari Thailand dan Ratu Rania dari Yordania. Dan biasanya, untuk meminta kembali baju rancangannya untuk disimpan di museum itu, Harry menukar baju-baju yang ia inginkan itu dengan baju rancangannya yang lain.

Awal kedekatannya dengan para bangsawan dan orang ternama di dunia bermula dari perjalanan kariernya saat ia masih magang di butik milik desainer ternama dunia, seperti Giorgio Armani dan Kenzo.

“Waktu itu jarang ada butik yang sudah menyiapkan baju jadi. Tapi, pelanggan harus mengukur dulu. Dan semua catatan ukuran beserta data-data para pelanggan pun dengan rapi saya simpan,” aku Harry.

Tak lupa, Harry menyelipkan inisial HDC sebagai simbol dari Harry Darsono Couture di bagian dalam baju yang ia kerjakan. Dari situ, para bangsawan mulai mengenal dirinya. Harry muda yang awalnya magang tanpa bayaran tersebut pun mulai mendapatkan jalannya sendiri untuk berkarier.

Berbeda dengan museum pada umumnya. Untuk dapat menikmati museum yang isinya selalu ditata ulang setiap enam bulan ini, pengunjung harus membuat janji terlebih dahulu. Para pengunjung dibatasi hanya 12-15 orang pada setiap tur.

Setiap orang akan dikenakan donasi yang terbilang mahal untuk sebuah museum, yakni USD 20 atau Rp 185.000 yang mana dana tersebut akan digunakan untuk kepentingan yayasan sosial di bawah naungan Harry Darsono. Tetapi harga mahal itu terbayar karena Harry menyiapkan cinderamata khusus untuk dibawa pulang para tamu.

Apalagi Harry juga mengakhiri tur yang dimulai dari lantai satu hingga lantai tiga ini, dengan suguhan penganan yang tersaji di lantai tiga, plus diiringi dentingan piano atau petikan harpa yang dimainkan Harry Darsono sendiri.

Museum ini juga memberlakukan aturan yang ketat bagi para pengunjung yang datang. Misalnya, harus datang 15 menit sebelum dimulainya tur, yang biasanya dimulai pada pukul sembilan pagi. Ada pula aturan mengenai busana berkunjung, yaitu berpakaian santai warna polos, tanpa motif. Dengan alasan keamanan, pengunjung juga dilarang berkomunikasi dengan dunia luar selama kunjungan.

Didirikannya museum ini diakui Harry lantaran ia ingin generasi muda mengetahui dunia fashion sesungguhnya, “Saya membangun museum ini karena ingin generasi muda tahu bahwa merancang itu tidak gampang. Anda harus memiliki ide, kreativitas yang tinggi, memperhatikan kualitas, serta ketekunan yang mendalam untuk membuatnya,” ungkap Harry.

Selain itu, ia juga berharap bahwa dengan museum yang pernah memenangkan penghargaan Museum Awards 2012 ini, masyarakat akan mengenalnya sebagai maestro mode di Indonesia.

Location

Jl. Cilandak Tengah Raya No. 71, Jakarta Selatan

See Map