Pelajaran dari Keruntuhan Batavia

   
 
Kota Batavia pernah dibangun Belanda dengan mimpi menyerupai Amsterdam.  Namun, pada akhirnya runtuh dan ditinggal penduduknya hanya karena sanitasi kota yang buruk. Peristiwa itu meninggalkan pelajaran penting bahwa kesalahan merancang dan membangun kota dapat menghancurkan peradaban manusia.
 
Batavia pernah dipuja sebagai kota yang lebih indah dari Amsterdam. Pada tahun 1718, bahkan seorang Portugis bernama Innigo de Biervilas juga menuliskan tentang Batavia, mulai dari kota yang elok, makanan yang berlimpah, hingga lingkungan Batavia yang sehat.
 
Pujian itu memang bisa dianggap tak berlebihan. Susan Blackburn dalam bukunya yang berjudul Jakarta Sejarah 400 Tahun (2011) menyebutkan, meski tak banyak bangunan yang bisa dibandingkan dengan Belanda, ada satu bangunan yang tidak akan membuat malu Batavia, yakni Balai Kota (Museum Kota Jakarta). Bangunan megah berlantai dua itu selesai dibangun pada 1710 dan dihiasi menara beratap kubah.
 
Sementara itu, di buku berjudul Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe yang berisi kumpulan dari karangan majalah Intisari 1963-1968, dijelaskan, jumlah kali di Batavia mencatat rekor terbanyak pada masa kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagniie (VOC). Hal itu terjadi karena Belanda gemar membangun kanal buatan.
 
Tujuannya selain untuk peningkatan transportasi sungai demi kepentingan bisnis, juga karena kerinduan mereka akan Amsterdam. Kota Amsterdam memang sampai kini masih terbelah-belah oleh banyak kanal.
 
Namun, kegemaran Belanda membangun Batavia dengan mimpi menyerupai Amsterdam melupakan aspek yang tak kalah penting, yakni sanitasi. Akibatnya, lingkungan di sekitar Batavia menjadi kotor, berbau busuk, dan tidak sehat.
 
Kerusakan ekologi
 
Penyumbang terbesar kerusakan ekologi Batavia berasal dari kanal yang dibangun Belanda. Pada musim kemarau, saat sungai-sungai surut, bau busuk akibat endapan lumpur menguar hingga ke perumahan warga.
 
Sementara itu, pada musim hujan, air kotor dari kanal meluap ke bagian kota yang lebih rendah dan membanjiri lantai dasar rumah. Banjir itu meninggalkan lumpur dan kotoran yang sebagian besar berupa kotoran manusia.
 
Menurut sejarawan pendiri penerbitan Komunitas Bambu, JJ Rizal, kotoran manusia pada masa itu memang dibuang ke sungai. Sebab, awal kedatangan bangsa Eropa, mereka pun tidak membawa kebiasaan sanitasi yang baik.
 
”Di Batavia saat itu, seperti di Eropa, mereka menggunakan ember-ember besar atau tahang yang dibuat orang Tionghoa untuk menampung kotoran manusia. Nanti pada pukul 9 malam, ada peraturan dari pemerintah daerah untuk tinja itu dibuang ke kanal,” katanya, Kamis (17/10/2019).
 
Ekologi Batavia yang buruk itu kemudian berdampak luar biasa pada kesehatan warga. Dalam buku Batavia Jakarta Tempo Doeloe disebutkan, awal abad ke-20, wabah kolera di Batavia jadi penyakit yang mematikan. Setiap hari puluhan orang tewas. Wabah kolera juga menjalar hingga Bogor, Sukabumi, dan Bandung.
 
”Ada hari-hari ketika di Batavia terdapat 160 orang mati. Mereka mengalami kejang-kejang hebat dan meninggal dunia beberapa saat kemudian,” tulis Susan Blakburn dalam bukunya yang dikutip dari artikel Roorda van Eysinga.
 
Penyakit yang terus mewabah dan meluas itu menimbulkan kepanikan luar biasa bagi kalangan Eropa. Sebab, pada masa itu pemahaman mengenai penyebab penyakit masih rendah dan belum tersedianya obat yang dapat diandalkan untuk memberantas wabah itu.
 
Wabah mematikan tersebut tak lepas dari sistem sanitasi yang buruk. Padahal, penduduk Batavia juga memenuhi kebutuhan air bersih, termasuk untuk minum, dari sungai karena air tanah di kota sangat dangkal dan tak aman dikonsumsi.
 
Namun, karena rendahnya pemahaman masyarakat pada saat itu, kemunculan penyakit malaria dan kolera menimbulkan perdebatan. Sebagian besar orang Eropa cenderung menyalahkan pada udara yang berbau busuk.
 
Sementara orang Indonesia yang individualis membentengi diri dengan khasiat ”air suci”, yaitu air yang diambil dari lokasi keramat atau telah didoakan pemuka agama Islam. Ada pula yang mengadakan ritual massal untuk mengusir penyakit.
 
Kegagalan mengelola kota
 
Di kalangan orang China, mereka memunculkan kebiasaan memanggil barongsai untuk berkeliling pecinan. Sebab, mereka percaya, setan penyebar kolera takut pada barongsai. Terlepas dari pemahaman masyarakat masa itu akan penyebab penyakit, Susan Blakburn dalam bukunya menegaskan kalau ketidakmurnian air minum menjadi penyebab warga terjangkit penyakit fatal dan mematikan.
 
Pembunuh utama yang berhubungan dengan air dan sejak lama menjadi musuh Jakarta yakni malaria. Sebab, nyamuk Anopheles berkembang biak di genangan air di seluruh kota.
 
Penyakit mematikan yang melanda Batavia menimbulkan persepsi bagi penduduk Batavia kalau kota itu tak lagi sehat ditinggali. Akibatnya, sejak abad ke-17, setelah ada perdamaian dengan Banten dan Mataram, permukiman penduduk perlahan menyebar ke luar tembok kota.
 
Susan Blakburn menuliskan, pada 1730, diperkirakan terdapat 10.000-15.000 orang yang tinggal di luar kota. Pada pertengahan abad ke-18, orang Eropa pindah ke selatan mencapai wilayah Molenvliet, Jacatraweg, hingga Weltevreden.
 
Mereka menjauhi kota yang dikelilingi tembok atau Kota Tua dengan tujuan mencari lingkungan yang sehat dan tidak tercemar kanal kotor. Akibatnya, pada tahun 1779, populasi Kota Tua turun menjadi 12.131 orang karena ada 160.986 orang memilih tinggal di luar kota.
 
Eksodus penduduk itu secara tak langsung mengubah peradaban kota yang pernah dipuja lebih elok daripada Kota Amsterdam. Kota itu bahkan dibiarkan seperti kuburan, ditelantarkan, dan diubah menjadi kandang kuda atau tempat penyimpanan kereta kuda.
 
Menurut JJ Rizal, Batavia runtuh lantaran kegagalan Pemerintah Batavia dalam merencanakan dan mengelola kota. Batavia hancur karena bencana ekologis.  ”Memang ada yang bilang karena korupsi Batavia runtuh. Tetapi, yang paling utama adalah bencana ekologi yang menyerang lewat penyakit malaria dan kolera,” tuturnya.
 
Pelajaran masa lalu
 
Dari bencana ekologi di masa Batavia, Jakarta perlu belajar agar kegagalan penataan dan perencanaan tata kota tak terulang. Sebab, membangun kota dengan mengabaikan ekologi seperti menumpuk masalah yang bisa meledak kapan pun.
 
Indonesia juga pernah diakui dunia karena keberhasilannya mengubah wajah Jakarta. Masa itu ada di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin.
 
Darrundono, dalam bukunya berjudul Perwujudan Arsitektur Sosial Proyek MHT, menyebutkan, pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, terdapat 60 persen kampung kotor yang menutupi wajah Jakarta.
 
Ali Sadikin kemudian memilih memperhatikan nasib rakyat kecil dengan menata kampung-kampung Jakarta. Meski gagasan itu sempat ditolak Kepala Bappenas Wijoyo Nitisastro, ia tidak putus asa. Ia kukuh melakukan perbaikan kampung dengan anggaran Pemda DKI sendiri, sekalipun dengan cara bertahap.
 
Program penataan itu merupakan bagian dari proyek MH Thamrin dan berlangsung pada masa proyek MH Thamrin jilid II (1982-1987), MH Thamrin jilid III (1989-1999).
 
Meski kejayaan proyek MH Thamrin relevan pada masanya, semangat Gubernur Ali Sadikin patut dipertahankan. Semangat Gubernur pertama Jakarta itu menjadikan proyek penataan kampung sebagai salah satu dari enam proyek vital layak ditiru demi wajah baru Jakarta.


https://bebas.kompas.id | STEFANUS ATO/AGUIDO ADRI