Permudah Permohonan Rekomendasi Cagar Budaya, DKI Luncurkan Aplikasi Berbasis Online

 
Dinas Pariwisata dan Budaya DKI meluncurkan aplikasi berbasis web untuk pelayanan rekomendasi teknis pemugaran cagar budaya.
 
Aplikasi itu dapat di akses langsung dalam laman Disparbud DKI http://jakarta-tourism.go.id/sim, dan prosesnya rekomendasinya dapat berjalan cepat dibandingkan dengan secara manual.
 
"Aplikasi yang akan kita luncurkan ini untuk memudahkan pemohon untuk mengajukan pemugaran cagar budaya," kata Kepala Pusat Konservasi Cagar Budaya Disparbud DKI Jakarta Linda Enriany, Selasa (17/9/2019).
 
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur nomor 475 tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan bersejarah DKI Jakarta, terdapat dua standard operational procedurs (SOP) yang diterapkan, yakni pertama terkait pemugaran cagar budaya, dan kedua terkait kawasan pemugaran.
 
Proses rekomendasi untuk pemugaran cagar budaya akan berlangsung berlangsung selama 26 hari, dengan maksimal empat kali sidang.
 
Lamanya proses rekomendasi itu terkait penanganan yang perlu pemeriksaan mendalam.
 
Adapun untuk proses rekomendasi pada bangunan di kawasan pemugaran, prosedur yang ditetapkan adalah sidang berlangsung dua kali dalam rentang waktu 12 hari.
 
Dalam sidang tersebut, Disparbud DKI akan memberi keputusan untuk memberikan rekomendasi.
 
Dibandingkan dengan pengajuan rekomendasi secara manual, peluncuran aplikasi ini dapat memudahkan para pemohon untuk mengajukan pemugaran cagar budaya.
 
Hanya saja proses pelaksanaan pemugaran tetap sama. Hanya mempermudahkan akses permohonan.
 
"Perubahan ini kami lakukan pertama kali, pelayanan teknologi pertama kali dilakukan di konservasi cagar budaya biasanya manual sekarang bisa online," ujarnya.
 
Disisi lain, katakan Linda, dalam melaksanakan pemugaran cagar budaya yang ada di Jakarta pihaknya juga berencana akan melakukan studi banding ke cagar budaya Kota Malaka, Malaysia.
 
Alasan kota tersebut dijadikan lokasi studi banding selain meninjau bangunan cagar budaya hasil pemugaran, juga mempelajari pengelolaan bangunan dari kebijakan pemerintah setempat.
 
"Utamanya Melaka, kita melihat dia adalah estinasi wisata yang potensial dalam hal wisata sejarah. Jadi, kami perlu melihat mereka mengembangkan cagar budayanya sehingga menjadi kawasan yang menarik," ucapnya. 
 
 
 Penulis: Joko Supriyanto |Editor: Ika Chandra Viyatakarti | wartakota.tribunnews.com