Indonesia Kita " Pemburu Utang"

Address

Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta.

Open at

Jumat, 1 November 2019 - Pukul 20.00 WIB
Sabtu, 2 November 2019 - Pukul 20.00 WIB

Contact

0895 3720 14902 | 0813 1163 0001 |




Apa yang terjadi ketika Negara dinyatakan bangkrut karena utang yang terlalu menumpuk?
 
Kisah ini bermula dari situasi di suatu Negara yang  tidak sanggup menanggung beban utang, dan  rakyat yang menanggung utang-utang Negara. Setiap warga Negara diwajibkan ikut membayar utang. Setiap warga Negara yang masih memiliki aset dan kekayaan, akan disita untuk menyelamatkan keutuhan Negara. Karena situasi seperti itu maka seluruh rakyat memilih untuk menjadi miskin. Semua beramai-ramai membangkrutkan diri dan lebih memilih hidup menggelandang atau menjadi pengemis.
 
Tapi ketika menjadi pengemis dan gelandangan pun mereka akan didenda. Bila tak mampu membayar denda itu maka mereka dianggap memiliki utang pada Negara dan harus membayarnya dengan cara apapun, dicicil atau dikridit dengan bunga tinggi.
 
Dalam keadaan itu, muncul Partai Pengemis Nasional, yang beranggotakan seluruh orang miskin. Partai ini kemudian menyelenggarakan kongres besar dengan mengundang seluruh pengemis dan orang-orang miskin. Kongres memutuskan agar semua orang harus ikut membayar utang. Dan dibentuk petugas "Pemburu Utang" yang bertugas menyita apapun barang berharga yang masih tersisa.
 
Sebenarnya, di antara pengemis dan orang-orang miskin itu ada banyak orang kaya dan berduit. Namun agar kekayaan mereka tak diambil "Pemburu Utang" maka orang-orang kaya itu memilih pura-pura miskin. Setiap orang menjadi pingin terlihat paling miskin dan menderita. Masing-masing selalu menceritakan seluruh penderitaan dan kesusahannya. Semakin terlihat menderita dan susah, mereka malah terlihat makin hebat.
 
Karena semua ingin terlihat miskin, maka barang-barang mewah yang sebelumnya menjadi status sosial orang kaya, menjadi tak berarti. Yang dicari justru barang-barang atau benda-benda yang buruk, jelek, rusak, rombeng. Semakin rombeng barang itu, justru makin dicari. Baju-baju mewah dan bagus tak ada yang mau beli; tapi pakaian rombeng dan penuh tambalan justru disukai. Kemiskinan menjadi mode. Kemiskinan menjadi lifestyle. Semakin tampak miskin semakin modis dan bergaya.
 
Mereka tak menyadari  bahwa semua itu hanyalah proyek yang sedang dirancang agar orang-orang menikmati segala macam bentuk kemiskinan. Ketika banyak yang menderita, selalu ada yang mengambil keuntungan dari penderitaan itu.
 
Siapakah mereka yang senang mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat itu?
Temukan jawabannya dalam lakon "Pemburu Utang" dengan pesan yang sama: Jangan Kapok Menjadi Indonesia.
 
Judul Pentas                      : Pemburu Utang
Jadwal  Pentas                  : 2 kali pentas
  Jumat, 1 November 2019 - Pukul 20.00 WIB
  Sabtu, 2 November 2019 - Pukul 20.00 WIB
Venue                                   : Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta.
 
HTM:
PLATINUM Rp. 750.000  | VVIP Rp. 500.00 | VIP Rp. 300.000  | BALKON Rp. 150.000
 
Reservasi Tiket:
www.kayan.co.id | www.blibli.com
 
Informasi:
Kayan Production & Communications
0895 3720 14902 | 0813 1163 0001